Mengelola Ekspektasi

Hay peeps. Long time no see.

Eh gak long juga ding, baru juga beberapa minggu lalu gue nulis 30 days writing challenge yang gagal gue selesaikan. Wkwkwk. Yang belom tentu juga ada yang mau baca juga. Gapapa. Eniwey, jumat kemaren gue baru ngerasain lagi nikmatnya punya tempat tinggal dekat dengan tempat kerja dan pulang jam 5 sore. Yep, gue udah ngekos! Yuhuuu~ cuma 10 menit jalan kaki dari kantor. Bisa leselese ngeliatin Jakarta dari lante dua selagi matahari belum terbenam. Gak kayak jaman gue harus PP Jakarta-TangSel dengan kemacetan kuningan + KRL commuterline yang bisa menghabiskan 3 jam idup gue secara siasia di jalan.

Walopun bukan berarti semenjak ngekos, gue bisa pulang jam 5 sore saban hari yah. Itu baru kemaren doang. Karena, bersama dengan kenikmatan, biasanya juga ada kenestapaan. Yaitu kerjaan gue yang gue rasa demanding. And while I’m still on it…

Kali ini, gue akan mengangkat topik tentang ekspektasi.

Gue akui beberapa waktu belakangan ini mood gue naik turun. Kalo abis konsul dari psikolog/psikiater, biasanya agak bagus. Tapi tengah minggu, kala harus ketemu user, melakukan berbagai kesalahan di pekerjaan baru gue ini, ngoding dan harus deliver working prototype sesuatu dengan bahasa pemrograman yang belom pernah gue sentuh sebelomnya, mood gue bisa tiba-tiba turun lagi. Lo ga perlu menceramahi gue soal “ya kerja emang begitu” yes. Even after working for years, I know things like this constantly happen. Gak ada kerjaan yang cuma enaena aja gapake resiko stres.

Hanya saja kali ini, nampaknya ekspektasi gue terlalu tinggi. Terhadap diri gue sendiri. Gue memiliki ekspektasi tinggi untuk menjadi orang yang kompeten di bidang apa pun yang gue pilih untuk gue geluti. It’s just my nature, that I like to have a competency. I want to be seen as a competent and professional person, who can control my emotion in the workplace, and can overcome any problem.

But I failed. Well, kind of.

Sebelum lo berasumsi bahwa gue adalah orang yang tida perna gagal. Gue kasi tau aja, jaman S1 dulu gue pernah nggak lulus kuliah setengah semester, dan S2 gue lulus telat setengah taun. Gue gagal beberapa kali untuk bisa keterima di perguruan tinggi, berpuluh-puluh kali dalam mencari pekerjaan. So, there’s that to it.

Setelah beberapa bekerja, gue menyadari betapa bidang yang gue geluti ini membutuhkan skill komunikasi, observasi, dan analisis yang lumayan berbeda dengan apa-apa yang pernah gue kerjakan dulu. Dan lebih intens, tentunya. Dulu-dulu, gue pernah ngerjain kerjaan yang technically mirip. Tapi requirement-nya udah lumayan jelas (karena berhubungan dengan regulasi). Trus, kerjaan gue juga yang lama-lama membutuhkan attention to detail yang sangat tinggi (ketika jadi tester). Kadang gue ngoding-ngoding juga, yang mana kebutuhannya jelas, tinggal susun algoritma, dan sisanya urusan gue, komputer, dan Tuhan. Gue sering ngomong sama user, memberikan presentasi. But mostly I know what to expect, and what is expected from me.

Di pekerjaan sekarang, semuanya bisa serba lebih kurang jelas dari segi requirement dan ekspektasi. Though I tried. Beberapa kali, apa yang gue pikir harus disampaikan ternyata buat bos gue terlalu berbelit-belit. When I tried to deliver the result based on the written requirement, turned out that there are so many things I need to confirm beforehand to stakeholder. And not all stakeholder knows what they want (Gue tau ini masalah klasik dalam requirement gathering, dan tbh skill satu ini udah jarang gue asah semenjak kuliah dulu). I don’t always know what is expected of me. Pada kenyataannya, ternyata gue sering diharapkan untuk banyak ngomong sama orang, yang mana–kalo lo adalah introvert kelas kakap kaya gue–rasanya tiap kali mau ngomong sama orang itu kudu nyiapin mental sebaik-baiknya. Kalo ngga, bhay. Things can be messed up. Cape banget lah udah. Boroboro balik jam 5 sore melihat matahari terbenam dan luluran cantik. Yang ada, gue mikirin besok pagi harus ngomong apa, bagaimana, supaya lawan bicara gue mengerti apa yang gue pikirkan.

And it’s mentally exhausting. Very exhausting. Kadang, gue tepar aja udah di kosan. Atau Curcol ama siapa kek yang bisa gue curcolin. (Btw, ama dokter gue memang gw disarankan untuk lebih banyak curcol ama temen.)

Belum lagi, beberapa konflik dengan coworker yang gaya ngomongnya suka bikin gue merasa identitas gue terserang (meskipun masuk akal). Padahal, di Belanda orang-orangnya pada nyablak justru gue sante kek bebek. Juga misunderstanding dengan bos gue. Semuanya itu yang menjadi sumber kenapa gue merasa diri gue begitu gagal dalam mengemban tugas ini. At one moment, I got really, really messed up that I got into trouble with my boss. Untung aje gue kaga dipecat. Cuma bicara empat mata, yang mana itu udah bikin gue feeling ashamed, like such a failure for not being able to control my emotion. Untung bos gue baik. Dia mengutarakan ketidaksukaannya, but still being reasonable.

Intinya, ekspektasi yang gue set untuk diri gue sendiri gak terpenuhi. Dan gue kecewa sendiri karenanya. Dan itu sempet mempengaruhi kerja otak gue. Jadi sering ngeblank. Ruminating. Gue jadi jauh lebih sensi, take things personally, having lower mood to the point of hopeless and worthless. Mungkin dalam perjalanannya, perilaku gue udah memakan cukup banyak korban. Jadi, mohon maaf buat orang-orang yang pernah saya curhati dengan pikiran-pikiran negatif. Sorry for bringing you down. Biasanya di saat seperti ini, gue cenderung jadi super whiny dan clingy. Not a good sight lah pokonya.

Anyway.

Saat ini gue sedang mencoba untuk step back. Bukan menyerah dan gak punya ekspektasi sama sekali, yah. Beda. Step back, menerima kalo di titik ini gue belum bisa se-kompeten yang gue harapkan, dan akan ada kesalahan-kesalahan baru lainnya yang akan gue lakukan. Hadapi masalah satu-satu instead of mencoba menyelesaikan semuanya sekaligus. Dan menyusun strategi yang harus dilakukan the next time problems are likely to happen. It’s a very uncomfortable process, but let’s see whether it will get better with time. Makanya kemaren gue memutuskan untuk pulang jam 5 sore. Abis tu bikin personalized gift buat sohib yang 2 hari lagi nikah, ngabisin buku bacaan, take time for myself. Kodingan gue masi ngebug, biarin. Kali aja abis ngga disentuh beberapa hari, solusi muncul di kala otak lebih segar. Hopefully.

For those who have listened to my ramblings, thanks for being there. Makasih udah direpotin, dan maaf merepotkan. I’ll try to be somebody that you used to know. Someone more pleasant to talk with. It’s okay if you are tired with me and want to stay away from me. I am not supposed to depend too much on anyone, anyway. That’s why I am seeking a professional therapist. So I know better how to deal with my mind when no support system is available. At least, in healthier way. But now, I am much more lighter in mood. Just not physically. I guess the stress finally takes a toll on my body -__-.

Next time, akan gue usahakan menulis sesuatu yang lebi informatif. Tentu dengan selipan curcolan takpenting.

See  you!