Langit [Part 1]

“Apa yang kamu harapkan dari kematian?”

Ia mengangkat kamera yang sedari tadi dipegangnya, mengunci sosokku dari balik jendela bidik. Rananya berbunyi, menghentikan momen dan memerangkapnya dalam dua dimensi.

Aktingku pasti terlihat cukup menyedihkan sampai-sampai orang tak dikenal menyadari ada yang tidak beres dengan keberadaanku di pinggiran atap gedung rumah sakit. Seperti pasien-separuh-kriminal. Atau mungkin intuisi anak itu sedemikian luar biasa hingga dia bisa mencium aroma kematian dan menilai situasi hanya dengan sekali pandang. Entahlah.

Tapi, mendapati ada orang lain yang secara sadar menyaksikan rencana bunuh diriku–terlebih dengan sebuah alat perekam bukti ditangannya–membuatku sedikit canggung untuk mengeksekusi bagian akhir skenario yang kususun.

Sampai beberapa waktu lalu, satu-satunya hal paling masuk akal di otakku adalah kabur dari bangsal psikiatri.

Pihak rumah sakit memutuskan untuk memindahkanku dari unit umum setelah percobaan keduaku gagal. Sayangnya, upaya dokter dan perawat untuk memperbaiki kondisi kejiwaanku malah membuatku merasa semakin gila. Dua hari aku menyusun rencana, meyakinkan mereka bahwa otakku sudah cukup waras dan tidak lagi mencoba melakukan hal bodoh yang bisa melayangkan nyawa. Meski semua kepatuhanku itu cuma sekedar sandiwara.

Aku ingin mati.

Rencanaku nyaris berjalan mulus, kalau saja salah seorang pasien sialan tidak menimbulkan kericuhan, menarik perhatian salah seorang perawat yang kebetulan mengenaliku–tepat saat aku hendak keluar dari pintu rumah sakit. Kemudian, semuanya berantakan. Aku harus bermain kucing-kucingan dengan beberapa perawat supaya tidak tertangkap dan digiring balik ke bangsal dengan pengamanan yang jauh lebih ketat. Dan sampai akhirnya, hanya butuh beberapa langkah lagi bagiku untuk memenangkan permainan ini.

Kalau saja dia tidak berada disana, secara tiba-tiba membalikkan alur cerita.

Anak berkemeja putih, bertubuh tinggi kurus, dan berkulit pucat itu nampak seumuran denganku. Nantinya, kuketahui ia bernama Langit.

“Kalau kamu setuju untuk menunda kematianmu setidaknya beberapa jam, aku bisa memberimu tempat yang aman dari para perawat.” tawarnya seolah hidup dan matiku adalah sebuah negosiasi.

“Atau kau lebih memilih mereka menemukanmu.. Disini?”

Memilih? Umpatku dalam hati. Baiklah, hanya beberapa jam. Apa pun, selain kembali ke tempat itu. Beberapa jam cukup memberiku waktu untuk memikirkan rencana selanjutnya.

Belum sempat aku mengucapkan sepatah kata pun, Langit membuat kesimpulannya sendiri.

“Ikuti aku sebelum mereka datang. Cepat!”

Anak bernama Langit itu berjalan–setengah berlari–menuju sebuah jendela yang terbuka lebar di sisi lain bagunan atap yang tidak terlihat dari tempat kami barusan berdiri. Aku mengikutinya. Dilompatinya jendela itu tanpa ragu, sembari mengisyaratkanku untuk ikut melompat. Dan setelah kejadian hampir serupa adegan film-film action itu, ia mengunci jendela dan menutup tirai.

“Jam kunjungan dokter dan perawat sudah lewat. Untuk sementara, mereka tidak akan menemukanmu disini.”

 

***

 

>> Part 2

Advertisements