Reclaiming Control with Bullet Journaling

Tahun 2016 dulu, gue pernah membuat postingan tentang memulai Bullet Journaling. Itu adalah salah satu aktivitas yang rupanya cukup berhasil konsisten gue lakukan selama 2 tahun, sampe abis 2 buku sebelom akhirnya gue balik ke Indo dan terhenti. Mungkin karena udah ga sesibuk jaman di NL juga, jadi ngerasa ga butuh2 amat. Yang ga lama kemudian jadi terlalu sibuk dan stres sampe2 kehilangan hasrat untuk ngapa2in.

Pernah juga gue bahas di postingan sebelomnya kalo gue nemu Bullet Journal lama gue, yang mengingatkan betapa dulu gue pernah begitu produktif dan rapih dalam hidup. Walopun gak fancy2 amat, gak sampe ada doodle2 segala, tapi disitu gue menuliskan hal2 baru yang gue lakuin di bulan itu. Sesederhana makanan ato restoran baru yang gue kunjungin, resep2 baru yang gue cobain, tempat2 baru yang gue kunjungin.. Yang bahkan gue lupa kalo udah pernah lakukan.

Di masa2 uncertain yang bikin hidup jadi makin terasa ga berguna kayak sekarang ini, membaca jurnal lama memberikan gue sebuah evidence kalo hidup gue di masa lampau ngga semuanya buruk. Then I thought, maybe this is a good idea to continue this kind of journaling. And especially at time like this..

I need to feel like I still have a control over something, when everything around me seems out of control.

Kebetulan aja bagi gue, a sense of control itu lebih terasa dan terukur kalo gue tulisin. It was like a hard evidence. An aid to my poor memory. A record of history, no matter how insignificant. It is through writing one can evaluate the past, what works and what doesn’t. Dan ngomong2 soal evaluate, kali ini gue membuat bullet journal gue agak lebih fancy daripada sebelomnya. Mumpung ada waktu. It’s surprisingly therapeutic, too.

Gue masih tetap memilih buku berjenis dotted notebook buat jurnal gue. Yang ada titik2nya. Memudahkan kalo mau narik garis, baik dengan dan tanpa penggaris. Sebetulnya gue suka banget kertasnya Moleskine. Titiknya ga terlalu tajem, halus yang nggak bikin tinta bolpen celamitan, tapi juga nggak tembus kalo pake highlighter. Love deh pokonya. Tapi harganya mahal banget juga anjir, bikin ingin mengelus dompet. Dulu gue beli itu saat masih mampu.

Dengan finansial sekarang, gue sempet nyari2 brand lokal gitu dan sedang mencoba Fawn & Luna. Tentu saja, berkat AI nya instagram yang senantiasa merekomendasikan racun2 olshop dan tau aja kalo gue lagi nyari journal notebook. Cuma ternyata kertasnya gue kurang suka. Jenis kertas yang berserat dan gampang tembus kalo pake highlighter. Karena dah terlanjur dibeli, yaudah aja tetep gue pake.

Kalo untuk alat tulis, favorit gue masih zebra mildliner. Highlighter bullet journal sejuta umat. Ada 5 biji, gue kumpulin satu2 dari setaunan yang lalu. Bolpen, sekarang ini gue lagi nyobain gel pen-nya Muji yang mayan tersohor. Lumayan ena. Just hopefully there’s an refill, coz it’s quite pricey. Sekitar 30ribuan. Tapi gue lumayan suka sih sama pulpen Muji ini. Karena dia ngga celamitan. Penggarisnya pake kartu Monas *gamodal* Udah, sih. Kalo alat mah itu aja.

As for the content, dulu bullet journal gue banyakan isinya cuma todolist perkuliahan yang gaada lucu2nya. Yang sekarang juga ada todolist, mostly buat kerjaan. Cuman karena bukunya agak gede gue tambahin tracker2 kayak sleep tracker, mood tracker, dll. Ada juga beberapa tracker yang personal, kayak trigger vs emotion. Kalo lagi mood, gue suka nambahin doodle2 lucu. Tapi selera gue bukan yang bunga2 syantik gitu. Lebih nerdy2 ala Among Us.

Idk but I find that making this whole Bullet Journal relaxing and really helps my wellbeing. Karena kerjaan gue mengharuskan berada di depan komputer dan hape dalam waktu lama, sometimes I got really tired with the screen. Ngelakuin sesuatu yang ga berhubungan dengan alat elektronik itu rasanya soothing aja. Ngebantu juga buat nggak sering2 liat socmed dan berita. It just happen to work for me.

Gue sih ngga terlalu kaku soal aturan bullet journaling ini. Kalo misal ada salah2 tulis ato apa, yaudah aja. Gue lanjut aja. Ngga ada drafting pake pensil ato apa. Semua yang pengen gue bikin langsung aja dibikin. Gue sering bereksperimen juga dengan berbagai bentuk dan layout, jadinya dari segi desain emang terkesan ga seberapa konsisten. But I don’t stress much about layouting and colors and things like that.. karena poinnya adalah documenting. Jadi, gue lebih mikirin yang kira2 menyenangkan buat gue dokumentasikan itu apa.

Item favorit yang suka gue tulis itu Things I learned this week/month . Yah, ini sih selera ya. But one of the things that spark joy to me is knowing that I still have something new to learn about and put it into practice to bring value to others. So it is important to me, in time of wastefulness like this neverending pandemics, to have a sense–no matter how insignificant–that what I am doing is useful. Of course, this could mean different thing to other people. Satu lagi, New Food. Alias list of makanan baru yang gue coba. Yah, kalo hidup ini ujung2nya akan sama2 pointless, at least pointless sambil makan ena prospeknya lebih menyenangkan.

Jan ditiru pemikiran ini.

Anyway, yaudah sih itu aja sekilas info tentang kegiatan lumayan berfaedah yang gue lakukan. Dan setidaknya sebuah postingan yang lebih berfaedah daripada curhat tak penting semata.

Adios!