Melihat Arsitektur dari Arsitektur yang Lain

Beberapa waktu lalu, gue menonton sebuah program di National Geographic tentang pembuatan Burj Khalifa, gedung tertinggi di dunia. Gue nggak menonton program itu secara penuh, karena nggak sengaja nemu. Ketika nonton film itu, gue nggak berhenti membayangkan arsitek macam apa yang beneran sanggup mengubah rancangan 2 dimensi berisi potongan dan tampak jadi gedung beneran, yang bukan cuma sekedar gedung, tapi juga yang tertinggi di dunia. Berapa banyak tukang yang kerja buat bikin gedung itu dari fondasi sampai ujung menara? Gimana kontraktor ngatur semuanya supaya tetep sesuai schedule? Gue takjub ketika ternyata untuk bikin bangunan segede gitu yang dibutuhin ngga cuma sekedar seorang arsitek dan kontraktor–seperti yang gue tau kalo bangun rumah tinggal. Lo butuh ahli plumbing & electricals yang bisa bikin air dan listrik tersedia sampe lantai paling atas. Lo butuh wind engineer untuk mencegah orang yang ada di lantai 150 terbang kebawa angin pas lagi ada di teras. But then, when we see Burj Khalifa, as a layperson, we tend to think “Who is the architect?” not “Who is the wind engineer?”

Arsitektur itu menarik.

Melalui arsitektur, kita bisa mengetahui bagaimana kehidupan dan budaya di suatu tempat pada suatu masa ketika tempat itu dibangun. Kalau kita mau berhenti sejenak, mungkin juga kita bisa melihat lebih dalam gimana orang-orang yang tinggal di dalamnya memandang sesuatu atau sekitarnya.

Ada sebuah buku tentang esai arsitektur yang baru-baru ini gue baca. Judulnya Arsitektur yang Lain karya Avianti Armand. Dulu, gue tau beliau dari cerpen2nya. Karena gue suka, pas liat-liat karya dia yang lain, gue gasengaja nemu buku ini. Entah kenapa, gue tertarik aja. Selain daripada emang gue lumayan suka arsitektur, meskipun itu bukan bidang gue, gue emang lagi kepingin baca sesuatu yang nggak melulu soal teknologi atau sesuatu yang gue udah sering terpapar. Makanya, gue memutuskan buat baca buku ini.

Dan gue samasekali tidak menyesal. Justru, gue berharap nemuin buku ini lebih awal, kalo bisa beberapa tahun lalu ketika gue masih punya kesempatan mengunjungi bangunan arsitektur Eropa. Biar experience-nya lebih khidmat.

Bisa aja gue ngelarin buku ini dalam waktu beberapa hari. Tapi pernah gak sih, lo membaca sebuah buku yang saking ‘indah’ nya tuh sampe ngga pengen bukunya cepet2 berakhir? Bacanya diimit-imit. Diresapi. Trus terkagum-kagum, gimana bisa ya orang ini melihat sesuatu yang luput dari penglihatan kita, padahal hampir setiap hari kita ketemu sama objek-objek yang dibahas dalam buku ini? Pintu, jendela, fasad, dinding, bahkan ruang kosong. Itulah yang gue rasain ketika membaca ‘Arsitektur yang Lain’ sebagai orang non-arsitek.

Kayak contohnya, pagar. Dalam salah satu esai yang berjudul ‘Pagar’, Mbak Avi pernah mempertanyakan soal pagar yang mengelilingi rumahnya di komplek AURI. Dia gak paham kenapa tembok pagar di rumahnya tuh tinggi2 banget. Padahal, kalo emang fungsinya itu buat menjaga keamanan, mestinya juga gak akan semudah itu dipanjat oleh anak-anak yang saat itu sering main panjat-panjatan di pagar rumah dia. Dan kalo kita lihat, disini hampir semua rumah itu punya pagar. Gak peduli tinggi, rendah, transparan, atau apa. Gapeduli rumahnya tinggi, luas, sempit. Kalo ga ada pagernya tuh kayak aneh. Ya bener juga, sih. Sementara itu, gue juga teringat waktu dulu gue tinggal di Belanda dan suburban US, jarang banget rumah tuh ada pagarnya. Bahkan yang halamannya luas juga banyak yang gak punya pagar.

Why, tho? Signifikansi pagar ini tuh jadinya buat apa, sih? Dan seperti yang dibilang, banyak pagar yang nggak memenuhi kualifikasi untuk bisa dijadikan alasan ‘keamanan’. Kalau memang elemen arsitektur itu cuma perkara fungsi, kayaknya ada sesuatu yang lebih dari itu. Jadi, kenapa tetap ada pagar? 

Kalo menurut Mbak Avi, pagar itu semacam bentuk mekanisme pertahanan. Simbol paranoia. Disini kita melihat masyarakat yang paranoid. Ingin melindungi sesuatu. Yang kemudian, itu jadi cerminan keadaan sosial yang lebih luas. Hmmmm. Iya juga ya. Sebenernya, apa yang mesti dilindungi? Kenapa mesti dilindungi segala? Tapi ketika cerminan sosial yang dimaksud adalah kesenjangan sosial dalam masyarakat, ketimpangan kaya-miskin, tidak adanya penegakan hukum… oke, itu masuk akal. Pagar mencerminkan ketidakpercayaan masyarakat kita pada apa yang ada di luar sana. Juga cara termudah untuk menegaskan privasi. Cara kita mengatakan pada orang luar : “Yang ada di dalam sini adalah milik saya!!”.

“Berbicara tentang arsitektur bukan sekedar membicarakan sebuah bentuk dan struktur yang disusun oleh subjek yang independen dan bisa dialami dan diindera oleh tubuh–melainkan juga sebuah sistem representasi.” (Seksualitas dalam Ruang, p.234)

Jadi teringat dengan hal menarik yang gue temui waktu di Belanda. Orang Belanda–walau ga semua–lumayan banyak yang ngga nutup gorden, ato bahkan gaada gorden di jendelanya. Buat orang kita, rasanya gak nyaman banget. Kayak keliatan dari luar, gimana gitu. Tapi buat orang sana, ya sante aja. Karena toh, apa sih yang mau disembunyiin? Malah bagus kan bisa liat2 living room orang yang cakep2. But then when I think about it–mungkin aja alasannya juga sama dengan pagar. Kita pake gorden karena takut orang luar ada yang niat jahat kalo ngeliat apa yang ada dalem rumah…sort of? Itu sih yang gue tau. Mungkin juga ada alasan kultural lain. Intinya, elemen2 arsitektur kayak gini bisa nujukin apa yang masyarakat percaya terhadap lingkungan sekitarnya.

Ada banyak banget hal yang gue pelajari dari esai-esai dalam buku ini. Mulai dari representasi lingga yoni dalam bangunan, keberadaan tuhan dalam rumah ibadah, jendela dimana kita bisa mengamati tanpa berinteraksi, fungsi artistik vs fungsi praktis, monumen yang mengalami perubahan makna simbolis seiring waktu dan kehilangan jati dirinya sebagai sebuah statement. Dan masih banyak lagi, nggak bisa gue sebutin satu-satu. You just have to experience it. How reading each page enriches your soul.

Bahasanya nggak pernah membosankan. Sungguh page turner. Nggak berasa kaku kayak kalo lagi baca esai-esai pada umumnya. Kalopun ada kekurangan yang bisa gue rasakan dari buku ini adalah, kurangnya gambar yang menunjang deskripsi arsitektur tertentu, misalnya karya-karya arsitek yang disebut dalam buku ini. Mungkin buat orang yang berkecimpung di bidang arsitek udah familier dan paham kaya apa, tapi kadang gue agak susah bayanginnya sehingga harus googling dulu biar dapet gambarannya. Secara, ini buku arsitektur yang mana elemen visual juga penting. Gue sih berharap ada lebih banyak gambar aja. Bahkan tentang tukang, yang sempat terlintas di pikiran waktu gue nonton siaran Natgeo tentang Burj Khalifa, itu juga ada di buku ini. 

Judulnya mungkin emang ‘sebuah kritik arsitektur’. Tapi menurut gue ini buku enriching juga buat orang non-arsitek. Pas udahan kelar baca, gue membatin “Gila si Mbak Avianti Armand ini cadas banget bisa bikin esai yang ringan sekaligus super dalam kayak gini!” uh tambah love deh sama karya Mbaknya. Udah mah esainya keren, kumcernya juga bagus. Uhuhu.

Ada tulisan yang gue suka banget di bab Rumah Tuhan, bab favorit gue:

“Dan simbol adalah perangkat yang paling mudah digunakan untuk mendefinisi rumah ibadah atau rumah Tuhan. Seperti patung ayam di pucuk atap gereja Calvinist. Seperti salib di gereja Protestan dan Katolik. Seperti Bintang David di rumah ibadah Yahudi.

Namun, adakah Tuhan di rumah Tuhan itu?

Seorang teman menemukan Tuhan dalam kabin pesawat yang sempit, ketika ketakutan dan kekaguman akan ketidakberdayaan begitu dekat. Ketika hidup dan mati dipisahkan hanya oleh hal-hal yang kita tidak tahu dan bisa terjadi kapan saja. Ketika keagungan-Nya terbentang luas di bawah kakinya yang hanya bisa pasrah…” (p.19)

Menurut gue, ini dalem banget. Terkadang, kita begitu terpaku pada simbol-simbol sampai kehilangan esensi dari beragama itu sendiri. Termasuk dalam tempat ibadah. Kalau simbol A tidak ada, maka bukan A. Kalau kamu tidak melakukan X, maka kamu bukan golongan X. Kalau tidak ada A dan X maka kamu akan masuk neraka. Kalau nggak ada kubah, bukan masjid namanya. Really? Padahal kubah itu sendiri dipopulerkan sama arsitektur Kristen Renaissance. Dan kemudian, seperti yang ditulis dalam paragraf lainnya…

“Jika masjid berakar kata sa-ja-da yang artinya bersujud, bukankah hanya itu yang penting? Tempat bersujud–memuliakan nama-Nya?” (p.18)

Wow. Apakah tidak.. JLEB?

Gue pengen banget orang yang mudah mengkafirkafirkan orang lain itu baca bab ini buat bahan refleksi. Sungguh sebuah kritik arsitektur yang juga mencakup kritik sosial budaya.

“Maka jika Anda minta saya menulis, adakah Tuhan di rumah Tuhan; selamanya pena saya akan tergantung di udara, tak mampu mendarat pada bahkan satu titik pun.”(p.25)

Pas baca buku ini, gue ngerasa diajak untuk belajar memperhatikan why things are made the way they are made. What lies beyond the shape and forms. Gue melihat beberapa aspek dari proyek arsitektur ini punya pola yang sama dengan proyek di bidang-bidang lain. Kayak, kadang kita ngerasa paling tahu apa yang dibutuhin client. Padahal, seringkali yang tahu apa yang terbaik buat si client, ya client itu sendiri. Ini mengingatkan gue sama salah satu scene di film Cin(T)a, waktu Cina nyamperin Annisa dan nanya kenapa rancangannya baru kolom dan balok:

“Nis, kau ini pemalas kali pun. Begini kau bilang sudah selesai?”
“Iya”
“Ini kan baru kolom dan balok. Dindingnya mana? Jendelanya mana?”
“Pemilik bisa mendesain sendiri denah masing-masing. Gue cuma perlu bikin batasan dan strukturnya.”
“Jadi buat apa mereka bayar arsitek?”
“Arsitek tu suka berasa tuhan. Berasa paling tahu rancangan terbaik buat manusia. Yang paling tahu denah terbaik ya yang ngejalanin sendiri.”

Gue sangat merekomendasikan buku ini kalo kalian tertarik sama dunia arsitektur dan ingin melihat lebih jauh daripada sekedar bangunan-bangunan yang ada di sekeliling kalian. The next time you walk around the city, or in a small alley, you might remember a little piece from this book.

Sponsored Post Learn from the experts: Create a successful blog with our brand new courseThe WordPress.com Blog

WordPress.com is excited to announce our newest offering: a course just for beginning bloggers where you’ll learn everything you need to know about blogging from the most trusted experts in the industry. We have helped millions of blogs get up and running, we know what works, and we want you to to know everything we know. This course provides all the fundamental skills and inspiration you need to get your blog started, an interactive community forum, and content updated annually.