Chapter 0 – Prolog

Aku memikirkan kata-kata yang tepat untuk prolog ini sambil menyeduh segelas kopi hitam pada suatu malam, setelah semua pengunjung dan pegawai pulang.

Hmm. Kopi, ya.

Baiklah, akan kucoba.

Mungkin, kau akan berpikir kalau tulisan ini hanyalah cerita seperti kebanyakan cerita-cerita dalam novel roman picisan. Aku tidak akan menyangkal bahwa kisah yang kutulis ini terjadi di dalam sebuah kafe. Sebuah kedai kopi pinggiran kecil yang bersembunyi di tengah kepadatan ibukota. Latar yang sama dengan cerita-cerita dalam novel yang kau anggap tipikal dan membosankan itu.

Minus hujan.

Kau mungkin juga tidak akan menyadari bahwa satu dari sekian banyak kedai kopi yang pernah kau kunjungi dalam hidupmu adalah kedai milikku. Bahkan mungkin kau akan mendapati bahwa kisah yang kutulis ini adalah kisahmu–yang tidak pernah diketahui oleh dunia–, yang dibiarkan mengendap selama bertahun-tahun, berdekade-dekade, dalam sudut hatimu yang terdalam.

Di matamu, aku mungkin hanyalah seorang barista biasa yang tidak spesial. Tidak berbeda dengan barista-barista lainnya yang pernah kau lihat. Tapi dalam diamku, aku mewakili setiap inci dari dinding kedai kopiku yang menjadi saksi dari berbagai kisah.

Yang menyenangkan dan menyedihkan.

Yang terungkap dan tak terungkap.

Di sela-sela malam saat pengunjung terakhir pulang, atau di waktu-waktu sepi pengunjung, aku kerap meluangkan waktu untuk menulis kejadian, percakapan, pemikiran-pemikiran, apa pun yang terjadi di kedai pada hari itu dalam sebuah jurnal. Tentu, sebuah buku tak akan cukup menampung semua yang kulihat dan kudengar. Namun, tidak semua kisah layak untuk masuk ke dalam jurnalku.

Aku hanya menuliskan kisah-kisah yang menurutku patut diketahui dunia. Menurut standarku. Karena keunikannya, kesedihannya, kedalamannya, atau kesemuanya. Kisah yang membuka mata, bahwa apa yang terlihat belum tentu seperti kelihatannya. Kisah yang sanggup membuatku, atau kamu, memikirkan hal-hal yang tidak biasanya kita pikirkan.

Hanya cerita terpilih yang kuputuskan untuk kubagi pada dunia melalui buku ini.

Tenang saja, semua nama yang muncul dalam tulisanku sudah disamarkan, dan aku memastikan bahwa identitas setiap orang yang terlibat tetap aman.

Jika itu kebetulan adalah kisahmu, kau akan segera mengetahuinya.

Tapi, kuperingatkan satu hal: kalau kau berharap apa yang akan kau baca adalah kisah yang berakhir manis dan bahagia, jangan buang waktumu yang berharga untuk membaca tulisan ini.

Kenapa, katamu?

Karena menurutku, akhir yang bahagia itu membosankan. Apa serunya, kalau semua berjalan baik-baik saja? Lurus-lurus saja? Kau tahu kenapa kebahagiaan itu ada?

Berkat penderitaan.

Tapi tidak semua orang mau menerimanya. Mereka memaksakan diri untuk selalu bahagia, bahagia, bahagia. Dan aku tidak ingin menjual mimpi yang terlalu manis.

Aku suka kopiku tanpa susu dan gula.

Apa kau mau menikmatinya juga?