Day 19: On Finding Happiness and Being Happy (Part 1)

Topik ini terinspirasi dari sebuah postingan yang gue baca, tentang hal-hal apa saja yang membuat seseorang bahagia. Sumber kebahagiaan. Atau apa pun itu namanya.

Menurut sebuah definisi yang gue baca, kebahagiaan–or happiness–bisa diartikan sebagai sesuatu, sebuah keadaan yang membuat seseorang merasa senang. Walaupun buat gue, definisi itu terlalu sederhana. Rasa senang itu lebih temporary. Sementara bahagia terasa lebih stabil. Rasa senang itu subjektif. Ada yang mengartikan senang itu kayak pingin jijingkrakan sepanjang masa, ada yang rasanya kaya bikin hati jadi anget, ada yang definisi senangnya cuma sekedar bikin pen senyumsenyum ga jelas. Ah, ngomongin perasaan emang membingungkan. Gaada metrics yang jelas. Begitu pula bahagia.

Jadi, gue mendefinisikan ‘bahagia’ gue secara subjektif sebagai:

Sebuah keadaan dimana gue merasakan emosi positif yang membuat gue ngerasa hidup ini bermakna, berharga, berguna buat diri sendiri dan orang lain, masih ada yang patut diperjuangkan, menarik untuk dieksplorasi dan dikembangkan, serta terasa memuaskan dan enjoyable.

Definisi bahagia ini gue bikin sedemikian spesifik, karena kalau cuma senang doang–feeling elated and energized–mah dikasih mcFlurry mcD gratis juga gue udah senang. Lo beliin gue deh tu indomie goreng pake telor ceplok, gue juga senang. Tapi rasa senang semacam itu biasanya ngga akan bertahan lama. Ga akan cukup untuk bikin gue ngerasa ‘bahagia’ in the long run. Gue ga bisa bahagia hanya bermodalkan McFlurry atau Indomie.

Di sisi lain, ketika gue ngerasa bahagia, tidak berarti gue selalu merasa senang 24/7. Contohnya kalo kerjaan gue lagi susah ato lagi kena omel bos. Yha, saat itu mungkin gue ga senang. Malah bisa jadi bete karena gue gabisa nemuin bug di kodingan gue–misalnya–. Tapi in the grand scheme of things, mungkin sekali gue bahagia. Karena misalnya–punya kerjaan, dan tau yang gue kerjain ini bermakna. Kalo ga buat gue sendiri, minimal buat orang laen.

Banyak orang berusaha mencari kebahagiaan tanpa terlebih dahulu mendefinisikan apa itu bahagia buat mereka. Gue ga kebayang gimana seseorang bisa mengharapkan orang lain membantunya merasakan kebahagiaan, kalo bahkan dianya sendiri juga gatau apa definisi bahagia-nya. Kayak nyuruh orang lain nebak password kita secara brute force sambil berharap mereka menemukan jawaban yang benar setelah 1738428348xxx kombinasi. Bukankah lebih mudah jika dari awal kita udah bikin passwordnya, trus tinggal kasih aja? (btw gue gak menganjurkan sharing password ke orang lain. Ini hanya analogi.)

Anyway.. emang butuh waktu ga sebentar sih buat mencoba memahami topik abstrak ini, let’s say, menyusun definisi kebahagiaan buat diri sendiri. Dan ini mah karena gue lama ngejomblo aja, jadi waktu luang gue sering dipake buat mikirin hal-hal abstrak kekgini instead of mikirin si doi dan gegalauan. Yaela, kek cem punya aja. Kadang hal-hal kekgini gue tulis, kadang mengendap aja di dasar pikiran. Tapi trus berubah pikiran. Pengen aja gue posting. Itung-itung, bahan refleksi juga.

But at this point, more or less, I know what are the things that makes me happy. And I’ll let you know the password so you don’t have to brute force your way if you kindly want to make me happy in the long run 🙂

Constant learning and challenge
Mungkin ini kedengeran aneh, tapi gue suka mengumpulkan informasi, pengetahuan, skill, mempelajari hal-hal baru, dan menantang diri gue sendiri untuk membuktikan kalo gue sanggup menghadapi suatu challenge. Gue slalu nganggep hidup ini tuh kayak game, dengan berbagai quest–besar dan kecil–. Mindset demikian bikin gue ga terlalu bosan menjalani hidup. Bahkan, gue bisa jadiin diri gue sendiri sebagai bahan eksperimen jika memang dibutuhkan. Challenge-nya ga selalu harus menjadi seorang CEO sukses, cantik, dan sexy. Bahkan belajar lagu River Flows in You-nya Yiruma di piano aja bisa jadi tantangan. Terus, yang dimaksud belajar bisa juga dalam interaksi dengan orang lain, ato ngadepin orang. Apa pun lah. So, I am happy when I can learn challenging, new things.

Deep Emotional Connection with Other People
Ini juga merupakan salah satu komponen penting yang berkontribusi besar dalam kebahagiaan gue. Punya temen yang emotionally close, yang gue percaya, yang bisa dicurcolin tanpa ngerasa ter-judge, yang se-frekuensi pikirannya, yang menerima kelebihan dan kekurangan gue sebagai seorang individu. Gue menganggap hubungan seperti itu sungguh mahal harganya. Karena ga banyak orang seperti itu di sekitar gue. So when I do find one, I try to cherish the relationship until it’s time to part ways. Jika harus berakhir, gue gamau hubungan dengan orang-orang itu berakhir dengan kenangan buruk.

Salah satu alasan kenapa gue milih balik ke Indo instead of stay di Belanda adalah karena hal ini. Kalo soal kehidupan nyaman, mah, jangan ditanya. Tapi Belanda ga bisa memenuhi satu komponen esensial ini, sehingga gue ga bisa melihat masa depan gue disana. Sementara di Indo, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, gue punya temen yang bisa konek di level emosional. Dan gue tidak menyesali keputusan itu.

 

Sebenernya postingan ini belum selesai. Tapi gue cape banget tah kenapa hari ini. Jadi, akan gue lanjut besok, Insya Allah. Ketika gue lebih berenergi saat weekend.

(Bersambung)

Baca sambungannya disini: Day 20: On Finding Happiness and Being Happy (Part 2)